Jakarta (Murianews,  Jepara) – Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) mengintai industri mebel secara nasional. Para pengusaha mebel di Jepara sendiri telah bersiap diri menghadapi itu.

Ketua DPD Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Jepara, Antonius Suhandoyo, tak menampik bahwa gelombang PHK itu nyata adanya. Menurutnya, akar masalahnya yaitu isu resesi dan ketidakpastian ekonomi global.

Di sisi lain, Jepara sebagai salah satu kota berbasis industri mebel sangat bergantung pada pasar global untuk pertumbuhan ekonomi di daerah.

Menurut Handoyo, karakter buruh industri mebel di Jepara memang cukup unik menghadapi gelombang PHK. Pihaknya menjelaskan, kondisi pasang surutnya industri mebel sudah sangat dipahami para buruh.

Sejauh ini, lanjut Handoyo, tak banyak perusahaan mebel yang menyerap tenaga kerja secara besar di Jepara. Jika sudah mengalami kondisi seperti itu, mereka akan berbicara kepada buruh bahwa orderan berkurang dan terpaksa mengurangi karyawan.

Umumnya, kompromi antara perusahaan dan karyawan mudah tercapai tanpa konflik berlarut. Lalu para karyawan akan berupaya mencari pengusaha mebel lain yang masih mendapatkan order.

’’Kalau dilihat dari karakter (buruh mebel, red) dari dulu, mereka sangat bisa memaklumi jika ada masalah pasang surut. Itu sudah biasa banget. Buruh mebel di Jepara memang unik,’’ kata Handoyo, Sabtu (14/1/2023).

Pada situasi semacam ini, Handoyo melihat kesulitan bertahan akan sangat terasa bagi pengusaha-pengusaha menengah ke bawah. Sebab, sebagian dari mereka rata-rata mengandalkan perusahaan-perusahaan besar dengan peran sebagai pemasok mebel.

Secara kelembagaan, HIMKI telah menyiapkan beberapa strategi menghadapi persoalan tersebut. Pertama, Handoyo mengajak para pengusaha tetap optimis. Itu mengingat, kondisi tersebut memang menjadi anomali tetapi lumrah.

’’Yang namanya siklus atau perputaran di bisnis mebel itu pasti terjadi. Tapi kita harus optimis,’’ jelas Handoyo.

Kedua, lanjut dia, HIMKI mengajak agar digencarkan promosi di tahun ini meskipun situasinya sulit. Ketiga, harus dilakukan upaya diversifikasi atau perluasan pasar.

Dengan perhitungan matang, Handoyo mengajak untuk mencari negara-negara lain yang bisa ditembus. Dia melihat, pasar di Amerika Serikat dan Benua Eropa masih berpotensi besar.

’’Tapi jangan ngawur. Karena kita tahu kondisi dunia begini akibat perang Rusia Vs Ukraina dan resesi di mana-mana,’’ tegas Handoyo.

Handoyo menilai, besarnya jumlah penduduk Indonesia bisa menjadi sasaran pasar alternatif. Tetapi juga harus dengan perhitungan matang. (Faqih Mansur Hidayat/Zulkifli Fahmi)