Jakarta (Bisnis.com) - Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) memprediksikan pada tahun ini, industri furnitur akan mengalami pertumbuhan 6-8 persen. “Sampai akhir tahun kita akan naik di 6-8 persen,” kata Ketua Presidium HIMKI Abdul Sobur saat dihubungi Bisnis pada Selasa (10/1/2023).

Meskipun demikian, Abdul Sobur mengungkapkan, industri mebel ini akan mengalami penurunan pada kuartal pertama tahun ini. Lantaran hingga kini situasi geopolitik masih ada dalam bayang-bayang perang Rusia-Ukraina, yang akan mempengaruhi situasi ekonomi global tahun ini.

“[inflasi] sebetulnya masih tapi kan posisi inflasinya di negara terbesar dunia seperti Amerika ini kan terdampak ke semua, termasuk ke Eropa,” tutur Abdul Sobur.

Terlebih Amerika Serikat dan Eropa memiliki peran yang cukup besar dalam ekspor furnitur Indonesia. Abdul Sobur mengungkap, Amerika menyerap 51 persen produk furnitur yang diekspor oleh Indonesia. Sementara Eropa menjadi pasar 40 persen produk ekspor furnitur. Sisanya, produk furnitur Indonesia diekspor ke negara-negara Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Australia.

Namun, menurut Abdul Sobur, meskipun mengalami penurunan pada kuartal satu tahun ini, geliat industri ini akan menanjak positif pada kuartal kedua. Setelah digelarnya pameran Indonesia International Furniture Expo (IFEX) diselenggarakan pada Maret mendatang. “Jadi kemungkinan besar di kuartal keduanya akan naik, dengan pameran IFEX, ini kita target US$ 250 juta, follow upnya US$ 1 miliar, pasti naik, sampai akhir semester 1 [tahun 2023],” tambah Abdul Sobur. Lebih lanjut, Abdul Sobur juga menuturkan, HIMKI juga memperkirakan, pasar ekspor juga akan mengalami pertumbuhan di tahun ini, hingga 8,7 persen atau menjadi US$ 3,67 miliar.

“Naiknya ekspor tahun 2023 ini akan didorong oleh perubahan strategi reorientasi pasar dan atau perluasan pasar dari pasar tradisional ke negara-negara emerging market yang dinilai kondisi perekonomiannya masih relatif stabil,” lanjut Abdul Sobur. Sebelumnya, Badan Pusat Statistik mencatat, PDB industri furnitur atas dasar harga konstan (ADHK) pada kuartal III/2022 sebesar Rp 7,01 triliun. Data Indonesia menyebut, angka ini menurun sebesar 3,85 persen, lantaran pada kuartal yang sama tahun sebelumnya (yoy) mencapai Rp 7,30 triliun. Hal ini juga merupakan buah dari inflasi yang menyerang sejumlah negara di Eropa dan Amerika sebagai pasar ekspor industri furnitur Indonesia. (Widya Islamiati/Kahfi)