Jakarta (agroindonesia.co.id) - Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) segera merealisasikan program Mall to Mall Expo.Sebagai awal, program ini akan diterapkan di Mall Alam Sutera yang terletak di kawasan elit Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang.

“Mengapa target kita di Mall Alam Sutera? Di sini ada toko furniture dari luar negeri yang penjualannya meningkat, omzetnya sangat besar, bahkan sampai menembus di angka triliunan.

Itulah sebabnya HIMKI harus membidik pasar mebel di Jabodetabek,” kata Sekjen HIMKI Heru Prasetyo, di Jakarta, Jumat (23/12/2022).

Untuk spesifikasi produknya, anggota HIMKI tetap mempertahankan pada produk furniture solid wood. Jadi bagi customer di wilayah Jabodetabek yang menginginkan produk-produk solid wood bisa datang ke Mall Alam Sutra BSD Tangerang.

Heru menjelaskan, program Mall to Mall Expo adalah upaya HIMKI untuk penetrasi pasar dalam negeri yang memang cukup besar potensinya. “Ini merupakan salah satu solusi saat ini dimana kondisi global masih belum stabil, maka pasar dalam negeri yang sangat potensial perlu digarap,” paparnya.

Menurutnya, pertumbuhan pasar furniture di wilayah Jabodetabek sudah memegang peranan hampir 60 persen secara nasional. Jadi besar sekali potensinya. “Untuk itu, HIMKI menggandeng pihak ketiga, yaitu Sinergy Hub untuk bisa mengelola tempat jualan kita dengan sistem promosi bersama-sama antara Sinergy Hub, HIMKI dan pihak Mall Alam Sutera BSD Tangerang,” jelas Heru.

Dijelaskan Heru, HIMKI dan Sinergy Hub menjalin kerjasama untuk mengelola program peningkatan penjualan furniture dan home decor produk dalam negeri di pasar domestik untuk wilayah Jabodetabek. HIMKI juga membantu mensosialisasikan dan mendorong anggota HIMKI di tiap-tiap daerah untuk bisa ikut partisifasi aktif sebagai tenan atau peserta wiraniaga di tiap gerai yang akan di buka di wilayah Jabodetabek. Untuk wilayah Bandung, HIMKI sudah melaunching gerai “Teras Gloya” di Dago Bandung pada awal Desember yang lalu.

“Kami berharap agar pemerintah dapat mendukung promosi secara total sehingga program ini ini dapat diketahui oleh khalayak luas dan bisa untuk sebagai salah satu alternatif belanja furniture indonesia dengan spesifikasi kayu solid wood yang dikerjakan oleh tenaga terampil, craftsmanship,” ujarnya.

Heru mengatakan, beberapa perwakilan DPD (Dewan Perwakilan Daerah) HIMKI ikut serta dalam program ini. Untuk itu, pihaknya mengharapkan bagi rekan-rekan anggota HIMKI yang juga berminat bisa segera mengikuti program ini, bisa menampilkan karya-karya terbaiknya sekaligus berjualan secara langsung.

Permintaan terus meningkat

Heru Prasetyo menjelaskan, HIMKI memprediksi akan terjadi peningkatan permintaan furniture dan kerajinan untuk pasar dalam negeri pada tahun depan. HIMKI juga optimis pada tahun 2023 permintaan mebel dan kerajinan dari dalam negeri akan meningkat tajam. Kondisi ini dilihat dari permintaan pasar domestik mebel dan kerajinan cukup menjanjikan dengan midle income rata-rata lebih dari Rp 50 juta.

Penjualan produk furnitur dan kerajinan di pasar domestik diproyeksi mengalami pertumbuhan. Ini sejalan dengan semakin banyaknya proyek perumahan, gedung, dan perkantoran. Bahkan berdasarkan catatan HIMKI pasar domestik industri furnitur dan kerajinan tahun ini menembus angka Rp.15 triliun.

Apalagi, ungkap Heru, dari jumlah penduduk Indonesia sebanyak 267 juta jiwa, 70 persen di antaranya merupakan penduduk produktif menjadi katalis bagi bisnis furnitur, sehingga prospeknya masih menjanjikan.

Kuatnya permintaan domestik juga terlihat dari begitu masifnya ekspansi beberapa gerai milik asing di Indonesia dimana gerai-gerai tersebut yang notabene sebagian besarnya menjual produk mebel dan kerajinan asal impor.

Dari analisa Badan Pusat Statistik (BPS), pasar domestik berpotensi untuk dioptimalkan. Di sisi lain, pandemi Covid-19 telah menggeser pola konsumsi masyarakat. Sejumlah kebijakan yang ditujukan untuk mengurangi mobilitas penduduk membuat pengeluaran konsumsi rumah tangga untuk transportasi cenderung turun.

“Pengeluaran masyarakat sebelum pandemi Covid-19 untuk transportasi dan komunikasi hampir mencapai seperempat dari total konsumsi rumah tangga,” ujar Sekjen HIMKI Heru Prasetyo.

Namun, setelah pandemi, kontribusinya turun menjadi 23 persen. Sementara pengeluaran untuk perumahan dan perlengkapan rumah tangga menunjukkan adanya peningkatan. Rata-rata kontribusinya terhadap total konsumsi rumah tangga pada 2019 adalah sebesar 13,42 persen. Namun, tahun 2020 dan 2021, setelah ada pandemi, rata-ratanya naik menjadi 14,11 persen.

Kendati perubahannya tidak terlalu besar, papar heru, cukup menunjukkan bahwa rumah tangga di Indonesia mengalokasikan dana lebih banyak untuk kebutuhan perumahan dan perlengkapan rumah tangga. Merujuk definisi yang disusun BPS itu, perlengkapan rumah tangga yang dimaksud adalah kebutuhan akan furniture dan produk home décor. (Buyung N)