Jakarta (Solopos.com, SRAGEN) - Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) merespons baik pembangunan factory sharing Sragen yang rampung pada 15 Desember 2022 yang menelan Rp30 miliar. HIMKI meminta tarif pelayanan di factory sharing Sragen harus kompetitif agar para perajin mebel di Kawasan Industri Mebel Kalijambe-Gemolong, Sragen, bisa naik kelas.

Wakil Ketua Bidang Bahan Baku DPP HIMKI, Adi Dharma Santoso, mengaku ikut mendampingi dalam proses pembangunan FS Sragen. Dia menilai keberadaan rumah produksi bersama itu sangat dibutuhkan para perajin di Sentra Industri Mebel Kalijambe. Kebutuhan itu berkaitan dengan ketersediaan peralatan yang efisien dengan produktivitas yang lebih tinggi.

“Rekan-rekan perajin mebel ini membutuhkan mesin pendukung, mulai dari mesin pembelah kayu kemudian mesin-mesin poduksi dengan standar ekspor. Proyek pemerintah, seperti kebutuhan sekolahan, dinas, pasti akan bisa disuplai dengan kualitas yang jauh lebih bagus,” jelas Adi saat berbincang dengan Solopos.com belum lama ini.

Dia menerangkan para perajin di sentra industri Kalijambe membutuhkan mesin-mesin yang disiapkan dengan standar kualitas tertentu. Dia melihat selama ini mereka bekerja secara manual atau handmade. Dengan mesin-mesin yang tersedia di factory sharing, kata dia, mereka bisa membuat mebel dengan presisi tinggi dengan kualitas pengeringan yang lebih baik. Hasilnya adalah produk jadi yang lebih bagus dan awet sehingga memiliki masa pakai yang panjang.

“Di sisi kapasitas produksi, Sentra Industri Kalijambe biasanya memiliki kapasitas pengeringan kecil-kecil. Mereka kesulitan membuat pengeringan seragam dan homogen. Nah, di factory sharing Sragen sudah disiapkan sesuai dengan standar ekspor. Para perajin lokal yang beranjak [naik kelas] ke pasar ekspor bisa mendapatkan dukungan dengan adanya factory sharing Sragen ini,” jelas Adi.

Sejauh yang ia tahun, di kawasan Solora, factory sharing baru ada di Ngemplak, Boyolali dan Gemolong, Sragen. Di Kota Solo sedang dibangun di Pasar Gilingan.

 

Tentang HIMKI

HIMKI merupakan perkumpulan pelaku industri mebel. HIMKI Soloraya memiliki 130 anggota yang kebanyakan adalah eksportir dan memiliki fasilitas sendiri. Para anggota HIMKI sudah bermitra untuk saling mendukung, mulai dari suplai bahan baku, komponen, sampai suplai produk setengah jadi.

Bendahara II DPD HIMKI Soloraya, Asnaun Novi, melihat ada banyak perajin mebel di Sragen. Mereka bisa memanfaatkan factory sharing untuk menghasilkan produk yang lebih baik.

“Sata optimistis perajin di Sragen bisa memanfaatkan FS Sragen ini asalkan harganya kompetitif. Jumlah perajinnya ada ratusan orang. Rata-rata memang belum masuk di HIMKI. Kalau di HIMKI itu sudah eksportir semua. Para perajin di Sragen ini masih bermain di pasar lokal. Dengan adanya FS Sragen ini mereka bisa naik kelas. Kuncinya di harga yang kompetitif itu, pasti mereka mau,” katanya.

Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, menerima masukan dari pengusaha soal besaran tarif pelayanan di factory sharing agar jangan mahal. “Berapa tarifnya ya belum bisa dihitung. Kelembagaan pengelola factory sharing dalam bentuk UPTD saja belum disahkan. Kemungkinan Januari 2023 nanti sudah bisa operasional,” katanya. (Tri Rahayu/Kaled Hasby Ashshidiqy)