(KONTAN.CO.ID - JAKARTA) - Emiten furnitur, PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD) melihat prospek penjualan ekspor ke pasar Amerika Serikat (AS) masih cukup menjanjikan di tahun depan. Ini lantaran negara Paman Sam tersebut merupakan pasar terbesar untuk produk furnitur dan building component berbahan dasar kayu.

Investor Relation Integra Indocabinet Fajar Andika menuturkan, permintaan building component ke pasar AS mulai berangsur pulih di kuartal keempat ini. Sehingga pihaknya punya harapan pesanan dari AS akan semakin meningkat pada tahun 2023 mendatang.

"Sampai saat ini potensi penjualan ekspor ke AS bagi produk kami masih relatif lebih baik dibandingkan potensi penjualan di daerah lain seperti pasar Eropa, Australia, Asia maupun Afrika," ungkap Fajar kepada Kontan.co.id, belum lama ini.

Sebagai gambaran, permintaan produk WOOD dari pasar AS mengalami penurunan sejak kuartal ketiga tahun ini. Penyebabnya adalah, perlambatan ekonomi dan naiknya suku bunga yang terjadi di negara tersebut sehingga berdampak terhadap permintaan produk yang diproduksi perseroan.

Dengan adanya kondisi tersebut, perseroan pun menurunkan target penjualan menjadi minus 10% year on year (yoy), dari yang semula membidik pertumbuhan sebesar 25% di tahun ini.

Pasar AS merupakan target geografis penjualan terbesar bagi WOOD, di mana hampir 95% dari total pendapatan perseroan berasal dari penjualan ke negara Amerika.

Untuk memaksimalkan penjualan di tahun depan, WOOD berupaya untuk menyasar negara-negara lain, seperti Jerman, Inggris dan negara-negara UEA, serta pasar dalam negeri. Strategi ini dipilih lantaran mulai meningkatnya permintaan dari negara-negara tersebut, walaupun tidak sebesar pasar AS.

Adapun, pasar AS tetap menjadi target utama perseroan karena masih diberlakukannya kebijakan anti dumping dari AS. "Sehingga masih terbuka lebar potensi Indonesia untuk mengisi kekosongan produksi dari negara Tiongkok," sebut Fajar.

Namun demikian, WOOD belum bisa memaparkan lebih lanjut menyoal target penjualan maupun laba yang dibidik di 2023 lantaran masih dalam tahap penyusunan internal.

Sekedar informasi, perseroan telah melakukan ekspansi kapasitas denga membeli pabrik baru di Lumajang Jawa Timur tahun ini. Dia mengklaim, saat ini kapasitas produksi WOOD merupakan salah satu yang terbesar di Indonesia dengan kapasitas furniture sebesar 52.775 m3 dan building component sebesar 345.060 m3.

"Perseroan sudah menganggarkan capex sebesar Rp 250 miliar untuk tahun ini untuk modal ekpansi dan pemeliharaan, serta sudah melakukan realisasi pembelian pabrik baru di Lumajang Jawa timur," imbuh Fajar.

Hingga September 2022, WOOD tercatat membukukan penjualan bersih sebesar Rp 3,89 triliun. Angka ini lebih tinggi 10,61% dibandingkan penjualan pada periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp 3,52 triliun

Dari sisi bottom line, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat melemah 14,84% menjadi Rp 300,67 miliar per akhir September 2022. (Vina Elvira/Khomarul Hidayat)