JAKARTA, KOMPAS.com - Penyelenggara Indonesia Furniture Expo (IFEX) 2022 menargetkan nilai transaksi acara tersebut bisa mencapai 500 juta dolar Amerika atau setara Rp 7,4 triliun.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur dalam konferensi pers, Jumat (19/8/2022).

Target tersebut dibuat setelah melihat antusiasme pengunjung dan pembeli pada hari pertama IFEX yang mencapai 3.800 orang dari 123 negara.

Padahal sebelumnnya penyelenggara hanya menargetkan nilai transaksi sebesar 150 juta dolar Amerika atau Rp 2,2 triliun.

Angka tersebut masih termasuk kecil jika dibandingkan pada tahun 2012 yang bisa mencapai 900 juta dolar Amerika atau Rp 13,3 triliun.

"Analisa sebelumnya 150 juta dolar Amerika. Tetapi follow up setelah pameran bisa mencapai 500 dolar Amerika," kata Sobur.

Penyebabnya adalah IFEX yang sempat ditiadakan selama 2 tahun akibat pandemi covid-19. Selain itu juga karena IFEX 2022 diselenggarakan di tempat yang lebih kecil.

Penyelenggara menyediakan 35.000 meter persegi ruang, sedangkan biasanya bisa mencapai 50.000 meter persegi.

Terdapat lebih dari 250 perusahaan mebel dan kerajinan dengan berbagai merek yang turut memeriahkan pameran ini.

Berdasarkan data terbaru, India, Australia dan Malaysia menjadi 3 negara asal pembeli teratas dalam IFEX 2022.

Lanjut Sobur, IFEX tahun-tahun sebelumnya diselenggarakan pada bulan Maret. Tetapi tahun ini pemerintah masih belum memberikan izin apabila IFEX diselenggarakan pada bulan Maret.

"Tetapi kami tidak dapat izin menyelenggarakan pada bulan Maret karena covid masih tinggi. Baru pada bulan Agustus diberikan izinnya," tambah Sobur.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Direktur Dyandra Promosindo Daswar Marpaung sejumlah tantangan turut dirasakan oleh pembeli pada IFEX 2022, sebut saja peraturan perjalanan yang ketat

"Kemudian Indonesia masih menerapkan Surat Edaran (SE) yang cukup ketat. Untuk pameran pertama dengan kondisi ini merupakan capaian yang luar biasa," paparnya.

Oleh karena itu, meski pameran ini jauh lebih kecil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, teapi kualitas pembeli dan tenant bisa lebih baik karena terseleksi secara alamiah.

Wakil Ketua Umum HIMKI Djujuk Aryati memaparkan bahwa karya hasil Indonesia sangat menarik pembeli.

"Menariknya karena tren sekarang dituntut untuk sustainable product," jelasnya.

Produk Indonesia mengombinasikan bahan baku yang bisa menarik buyer, seperti jati, mahoni, kayu, rotan, kombinasi kayu dengan metal dan lain.