TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Potensi bisnis mebel di Indonesia yang cerah, rupanya memunculkan kekhawatiran para pengusaha mebel.

Itu tak lepas dari berkurangnya bahan baku kayu, terutama kayu mahoni dan jati yang paling diminati masyarakat luar negeri.

Untuk itu, pengusaha mebel dan kerajinan lewat Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) bakal mendorong pemerintah menerbitkan aturan seperti Keppres, agar penanaman kayu perkakas kembali diintensifkan.

Ketua Presidium DPP HIMKI, Abdul Sobur menjelaskan, beralihnya lahan Perhutani menjadi lahan sosial yang dipinjamkan kepada masyarakat membuat fungsinya tak lagi menanam kayu perkakas tetapi tanaman produktif lainnya.

"Kami akan mendorong pemerintah mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) untuk menanam kayu perkakas seperti mahoni, jati dan lainnya. Dengan harapan produksi tak terhambat dan sekaligus Indonesia bisa menurunkan gas emisinya," urainya kepada wartawan, usai acara Musda DPD HIMKI Jatim, Jumat (10/6/2022).

Ketua DPD HIMKI Jatim terpilih, Budianto Budi pun mengamini program HIMKI Pusat untuk melakukan penanaman kayu besar besaran, melalui pemanfaatan lahan di hutan-hutan (di pinggir jalan HPH) atau dulu dikenal dengan Tanam Jalur Indonesia.

Diharapkan melalui program kerjasama Tanam Jalur Indonesia dengan pemilik HPH (Hak Penguasaan Hutan), dapat menjaga keberlangsungan bahan baku industri mebel dan tetap menjaga kelestarian alam.

"Mengingat ketersediaan bahan baku kayu ke depan akan menjadi kendala utama industri mebel dan kerajinan Indonesia, karena selain semakin sedikitnya cadangan kayu hutan juga terjadi tekanan pasar untuk menggunakan bahan bahan yang sustainable (hasil tanaman)," tandasnya.

Selama ini, potensi bisnis mebel di Indonesia sebenarnya sangat menjanjikan.

Abdul Sobur menyebutkan bahwa total ekspor mebel dan kerajinan Indonesia pada 2021 sangat menggembirakan, yakni senilai USD 3,43 miliar (dengan pertumbuhan YOY 30 persen)

Walaupun pertumbuhan akibat Perang Dagang US-China ini cukup signifikan, pesaing utama Indonesia yakni Vietnam mampu merealisasikan ekspor mebel yang lebih besar (USD 9,3 miliar) disebabkan negara itu dijadikan tujuan utama subsitusi produk China dan relokasi pabrik dari China.

“Produsen mebel asal China lebih tertarik merelokasi pabrik ke Vietnam dibandingkan ke Indonesia, hal ini menunjukkan kegiatan produksi mebel di Vietnam memiliki beberapa keunggulan,” paparnya.

Sedangkan Muhaimin, Direktur Masstige Deco Indonesia, perusahaan mebel di Sidoarjo yang fokus mengisi interior design dan mebel di industri perfilman Korea (Drakor) menjelaskan, potensi pasar internasional masih sangat luas dan menjanjikan.

Itu perlu dimanfaatkan oleh para produsen mebel Indonesia melalui desain dan produk yang berkualitas .

“Kami sejak beberapa tahun lalu secara rutin mengekspor produk mebel ke Korea rata-rata 20 kontainer per bulan, peluang pasar di Negeri Ginseng itu masih cukup besar,” ungkapnya.

Muhaimin menyatakan, pentingnya mengintensifkan pameran mebel di dalam maupun luar negeri guna memperluas pasar ekspor.

Keikutsertaan pelaku industri mebel dalam kegiatan pameran berdampak positif dalam mempromosikan mebel Indonesia, selain bisa mempertemukan dengan pembeli dari berbagai negara.

Tak dipungkiri bahwa untuk mengembangkan industri mebel diperlukan support pemerintah, terutama dalam upaya menggenjot ekspor.

Itu karena kinerja ekspor mebel Indonesia masih belum maksimal, sehingga masih kalah dengan sesama negara Asia Tenggara lainnya yakni Vietnam.

Sementara itu, setelah 3 tahun vakum, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) HIMKI Jatim menggelar musyawarah daerah (musda) atau pemilihan kepengurusan periode 2022-2025

Musda yang diikuti oleh anggota HIMKI sebanyak 168 pelaku usaha mebel se Jatim ini akhirnya memilih Budianto Budi sebagai ketua terpilih.

Usai terpilih sebagai ketua DPD HIMKI Jatim, Budianto mengaku akan mengintensifkan pembinaan UMKM, terutama pelatihan keahlian. "Pelatihan tukang seperti bagaimana membuat kursi kecil atau pintu memang sangat penting, agar mereka punya keahlian dan mampu mendapat penghasilan," ujarnya.

Tak hanya itu, HIMKI Jatim juga mewadahi anggota untuk bisa ikut pameran, seperti Indonesia International Furniture Expo (IFEX). "Dengan ikut pameran, produk pelaku usaha menjadi dikenal dan potensi produk dibeli pembeli makin besar," pungkasnya