Banyaknya investasi asing yang masuk ke industri mebel dan kerajinan Indonesia akan membantu peningkatan ekspor komoditas tersebut sehingga target perolehan ekspor komoditas mebel dan kerajinan senilai 5 miliar dolar AS di tahun 2024 dapat direalisasikan.

“Relokasi industri mebel dan kerajinan dari China akan mendorong peningkatan ekspor Indonesia,” ujar Ketua Presidium Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur saat menjadi pembicara utama dalam webinar ”Peran Logistik Dalam Mendorong Pertumbuhan Industri Mebel Dan Kerajinan Nasional’ di Jakarta, Jumat (03/06/2022).

Menurutnya, saat ini banyak investasi asing, terutama asal China, yang masuk ke sektor industri mebel dan kerajinan di dalam negeri. Hasil dari investasi berupa relokasi industri itu akan dapat dirasakan secara maksimal dua atau tiga tahun lagi.

Dengan kondisi ini, Sobur optimis target perolehan ekspor mebel dan kerajinan sebesar 5 miliar dolar AS dapat dicapai tahun 2024 nanti. Terlebih pada tahun 2021 ekspor mebel dan kerajinan Indonesia mencapai 3,47 miliar dolar AS.

Pertumbuhan ekspor yang terjadi di tahun 2021 merupakan yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Pertumbuhan ini, ungkapnya, seharusnya bisa lebih besar lagi jika kebutuhan kontainer dan ketersediaan space cargo kapal pada saat itu bisa teratasi.

Mengacu perolehan ekspor tahun 2021, untuk melewati target 5 miliar dolar AS di tahun 2024, ungkap Sobur, pertumbuhan ekspor mebel dan kerajinan Indonesia cukup sebesar 13,41 persen saja per tahunnya.

Walaupun begitu, Sobur mengingatkan kalau peningkatan ekspor mebel dan kerajinan masih menghadapi tantangan, terutama soal logistik, dimana, ongkos angkut kapal masih tinggi dan ketersediaan kontainer masih belum normal.

Untuk itu, dia mengharapkan pelaku industri mebel dan kerajinan nasional juga harus merebut pasar lokal lebih banyak lagi. “Pasar dalam negeri harus dimanfaatkan untuk mengatasi permasalahan di sektor logistik.

Sobur berharap dorongan belanja pemerintah untuk produk lokal sebesar Rp400 triliun pada tahun ini dapat mendongkrak pasar domestik. Sejauh ini produk lokal yang dijual di pasar domestik hanya berkisar 5 persen. Sedangkan 95 persennya dikapalkan ke pasar ekspor.

Pulih di 2023

Pembicara utama lainnya dalam webinar itu, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno mengakui biaya logistik di Indonesia cukup mahal, apalagi untuk komoditas mebel dan kerajinan yang berbentuk bulky.

“Untuk produk Tekstil, kemungkinan kenaikan harga kontainer masih bisa diatasi, tetapi untuk mebel cukup memberatkan,” ujar Benny.

Menurut survei, papar Benny, kondisi pasokan kontainer dan ketersediaan space cargo kapal akan kembali normal di tahun 20023 nanti. Walaupun begitu, biayanya masih lebih mahal dibandingkan dengan harga sebelum pandemi Covid-19 merebak di awal tahun 2020.

untuk memacu ekspor, Benny meminta pemerintah dan pelaku usaha memanfaatkan fasilitas yang teradapat dalam perjanjian kerjasama perdagangan baik yang dilakukan secara bilateral maupun multilateral.

Dijelaskan, saat ini terdapat 23 perjanjian dagang antara pemerintah Indonesia dengan negara lain. “Namun kita belum tahu efeknya, apakah perjanjian sudah dimanfaatkan secara maksimal?” ujarnya.

Benny juga sepakat dengan Sobur agar industri mebel dan kerajinan perlu melebarkan pangsa pasarnya di dalam negeri yang kini banyak dimasuki produk impor. “Kurangi impor adalah kewajiban kita, selain meningkatkan ekspor,” ucapnya.

Menurutnya, produk mebel dan kerajinan Indonesia tidak kalau nilai estetikanya dan fungsinya dibandingkan dengan produk impor.

Sementara Direktur Pelaksana PT Dexter Eurektama, Edi Susila menawarkan solusi dari permasalahan logistik berupa kurangnya kontainer dan mahalnya biaya space dan cargo yang dihadapi pelaku ekspor Indonesia saat ini.

Dengan pengalaman selama 15 tahun beroperasi dan jumlah armada yang mumpumi, Dexter yakin mampu membantu eksportir dalam negeri dalam mengirimkan barangnya ke buyer mancanegara. Buyung N