INDUSTRY.co.id - Jakarta – Selama ini orientasi para pelaku usaha mebel dan kerajinan nasional adalah ekspor dan ekspor. Namun, dengan hadirnya PaDi UMKM yang dilanjutkan dengan kerja sama kedua belah pihak telah membuka mata mereka bahwa pasar dalam negeri sangat besar dan berjangka panjang.

Kerja sama kedua belah pihak bisa menjadi momentum untuk menggarap pasar dalam negeri.
Hal itu terungkap ketika Sekretaris Jenderal (Sekjen) HIMKI Heru Prasetyo menjadi pembicara bersama Adib Damara Satria, Merchant Growht PaDi UMKM dalam diskusi secara daring bertajuk “Menjadi Vendor Pengadaan Barang/Jasa BUMN,” Selasa 17 Mei 2022.

“Melalui kerja sama yang sudah terjalin, kami berharap PaDi UMKM bisa membantu untuk mengenalkan produk-produk HIMKI kepada BUMN. Misalnya, untuk pengadaan perlengkapan hotel, restoran dan kantor-kantor BUMN. Jadi tidak perlu kemana-mana. Kalau mau bangku sekolah atau ada renovasi kantor juga bisa ke teman-teman HIMKI," kata Heru.

"Untuk ke depannya kita harus meningkatkan kerja sama dalam hal penjualan guna menjaga pasar dalam negeri khususnya produk-produk dari anggota HIMKI,” tambahnya.

Dengan adanya kerja sama ini, para pelaku usaha di sektor permebelan dan kerajinan
mulai diarahkan untuk bisa merambah sejumlah kebutuhan seperti mebel dan kerajinan lainnya di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Melalui PaDi UMKM, BUMN dapat melakukan belanja barang dan jasa secara digital sehingga prosesnya lebih cepat, transparan dan bisa meningkatkan efisiensi.

Dengan cara seperti itu, BUMN senantiasa dapat terus berpartisipasi untuk memajukan UMKM mebel dan kerajinan yang berada di seluruh wilayah Indonesia.

Adib Damara Satria dalam paparannya mengungkapkan PaDi UMKM merupakan marketplace yang diinisiasi oleh Kementerian BUMN, bersinergi dengan seluruh BUMN di Indonesia dan PT. Telkom Indonesia ditunjuk sebagai pengelola dari aplikasinya.

PaDi UMKM adalah Pasar Digital untuk UMKM yang menjembatani transaksi antara Penjual (UMKM) dan Pembelinya yang sebagian besar adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di seluruh Indonesia.

Nilai transaksi dari PaDi UMKM kepada UMKM di seluruh Indonesia hingga saat ini sudah mencapai Rp1,7 Triliun dari 10 kategori yang sering dibelanjakan antara lain, alat tulis kantor, barang elektronik komputer dan periferal.

Selain itu juga ada souvenir (Kerajinan) dan merchandise, alat dan jasa kesehatan-keselamatan, catering dan snack. Tidak ketinggalan material konstruksi, pengadaan dan sewa perlengkapan-furniture, jasa event organizer, jasa percetakan dan media, jasa perawatan peralatan dan mesin.

“Pengadaan Barang dan Jasa BUMN memang menjadi salah satu faktor penting untuk mengoptimalkan dan juga mendorong kinerja BUMN sebagai salah satu tonggak ekonomi terpenting di Indonesia. Selain itu, Indonesia juga memiliki banyak sekali pengusaha kelas kecil dan menengah atau yang biasa kita kenal dengan istilah UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah),” tandas Adib Damara.

Meskipun demikian, Heru Prasetyo menyarankan, syarat mutlak untuk memperolah pengadaaan barang BUMN, harus mengedepankan sertifikasi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN), seperti yang dilakukan HIMKI dalam menjamin produk binaannya. Mulai dari sekarang sistem TKDN yang bagus ini harus dikedepankan.

Dari sisi harga dan kualitas, produk-produk mebel dan kerajinan di bawah binaan HIMKI jauh lebih bagus dan harga yang ditawarkan jauh lebih murah.

“Ini dorongan kami kepada anggota dan juga BUMN. Semoga ke depan teman-teman UMKM ini diberikan kue atau rejeki dari pengadaan barang ini, khsusunya di lingkungan BUMN. Produk-produk UMKM di bawah binaan kami sangat potensial sebagai marketplace PaDi UMKM dan ke depannya akan lebih banyak lagi,” ungkap Heru.

Dengan digalakkannya program Pasar Digital UMKM ini bisa menjadi wujud kerja sama yang saling menguntungkan antara para pelaku usaha dan BUMN guna meningkatkan nilai tambah bagi perusahaan masing-masing.