Jakarta – Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI) mendorong pemerintah untuk membangun kluster industri mebel dan kerajinan yang terintegrasi dengan memanfaatkan potensi di daerah.

"Pembangunan kluster industri tersebut tidak harus terpaku pada satu daerah khusus, namun disesuaikan dengan keunggulan daerah masing-masing," kata Ketua Tim Penyusun Roadmap Pengembangan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia AMKRI Dedy Rochimatdi sela acara bedah roadmap pengembangan industri mebel dan kerajinan Indonesia 2015-2019 di Hotel Holiday Inn Jakarta, Rabu (22/4/2015).

Misalnya, lanjut Dedy, kluster industri rotan bisa dibangun di Cirebon, yang merupakan daerah perajin rotan terbesar pertama atau di Solo yang merupakan daerah pengrajin rotan kedua. Selain itu, tambahnya, industri bahan dasar kayu idealnya di bangun di Jawa Tengah karena sebagian besar pengrajin dan bahan baku ada di daerah tersebut.

Dedy mencontohkan, industri mebel dan kerajinan di Taiwan sudah terintegrasi dengan baik sehingga dapat dikerjakan dan dikembangkan secara efisien dan dapat menekan biaya produksi.

Nantinya, lanjut Dedy, semua sektor akan saling terintegrasi, di mana dalam kluster tersebut harus ada industrinya, pengolahan bahan baku, pencetak sumber daya manusia, finishing produk dan bahan-bahan asesoris. Dengan terintegrasi, ongkos logistik untuk industri mebel dan kerajinan di Indonesia dapat turun minimal 10 persen.

"Kami ingin ada satu dulu kawasan kluster industri mebel dan kerajinan yang dibangun, setelah itu tinggal diduplikasi saja di daerah lain," ujar Dedy.

Dedy mengatakan, rencana tersebut masuk ke dalam roadmap pengembangan industri mebel dan kerajinan 2015-2019 demi tercapainya target pertumbuhan industri mebel dan kerajinan hingga 5 miliar dolar AS dalam lima tahun kedepan. ant/suryanto