KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga aluminium semakin menanjak di tahun 2021. Dilansir dari Bloomberg, harga acuan aluminium tiga bulan naik 2,98% ke level US$ 2.924 per metrik ton di London Metal Exchange (LME). 

Adapun mengacu pada data Grafik Harga Mineral Acuan Aluminium di laman resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, harga aluminium terus naik sejak awal tahun. Di Januari 2021, harga aluminium di posisi US$ 2.010 per metrik ton, kemudian pada Juli 2021 mencapai US$ 2.418 per metrik ton. Adapun pada September 2021 harga sudah menyentuh ke level US$ 2.557 per metrik ton. 

Ketua Presidium Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur mengatakan menurut data di lapangan, anggota HIMKI merasakan ada kenaikan harga aluminium sebesar 20%. Penggunaan logam untuk industri mebel terjadi pada umumnya untuk produksi furnitur outdoor termasuk gazebo outdoor.

"Tentu dengan kenaikan sebesar itu dampaknya sangat berat bagi industri furnitur outdoor khususnya yang juga menggunakan sintetic wicker," kata Abdul kepada Kontan.co.id, Minggu (12/9). 

Abdul menjelaskan, komposisi material aluminium untuk furnitur outdoor bisa 40%-50% dan sisanya sintetic wickers. Selain kenaikan harga bahan baku, kondisi ini cukup berat bagi anggota HIMKI karena situasi pasar yang belum menentu bisa menyerap karena berbagai alasan daya beli. 

Di sisi lain, industri otomotif juga merasakan hal yang sama. PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) melakukan efisiensi untuk menyikapi naiknya harga bahan baku dan daya beli yang belum sepenuhnya pulih. 

Direktur Corporate Affairs TMMIN, Bob Azam memaparkan, saat ini bukan hanya aluminium yang harganya naik, melainkan juga hampir semua jenis harga komoditi naik seiring dengan mulai pulihnya perekonomian di beberapa negara besar seperti China dan Amerika. 

"Selain itu juga logistik yang masih belum normal ikut menyumbang kenaikan harga," kata Bob kepada Kontan.co.id, Jumat (10/9). Dia tidak bisa memerinci berapa rata-rata persen kenaikan harga bahan baku lantaran pihaknya melakukan pembelian bertahap. 

"Di lain sisi daya beli konsumen belum sepenuhnya pulih sehingga industri dalam posisi sulit," ungkap Bob. Dia bilang, fenomena yang terjadi saat ini di industri adalah peristiwa umum setelah resesi. Alhasl, Toyota harus terus melakukan efisiensi untuk dapat meredam implikasi kenaikan agar tidak membebani konsumen.