Jakarta, 31 Juli 2021 –Abdul Sobur, Ketua Presidium Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia dalam konferensi persnya (31/07) menyampaikan bahwa memasuki tahun 2020 yang lalu, Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia mendapatkan tantangan yang cukup berat. Kejadian luar biasa berupa krisis kesehatan dampak dari penyebaran virus korona (Covid-19) yang terjadi pada akhir tahun 2019 dan telah memporak-porandakan sendi-sendi sosial dan ekonomi dunia, termasuk Indonesia.

Daya beli masyarakat dunia melemah berpengaruh pada menurunya permintaan dan berlanjut kepada aktifitas produksi global. Meskipun demikian ekspor mebel dan kerajinan Indonesia tahun 2020 masih tumbuh positif yakni 5,1%. Hal ini patut kita syukuri bersama, ujar Sobur.

Sobur mengungkapkan bahwa di tengah situasi pandemic Covid-19 sektor industri mebel dan kerajinan nasional masih menunjukan pertumbuhan yang cukup baik, bahkan memasuki enam bulan pertama di tahun 2021 permintaan ekspor mengalami lonjakan yang signifikan terutama dari Amerika Serikat.

Naiknya permintaan dari Amerika Serikat (AS) merupakan pengaruh positif dari kebijakan stimulus fiskal yang signifikan di AS. Langkah pemerintah AS ini meningkatkan pendapatan rumah tangga dan mendukung pengeluaran yang berkelanjutan untuk semua barang, termasuk impor. Selain itu adanya kekurangan pasokan furniture dari Tiongkok dampak trade war kedua negara memaksa AS melakukan shifting order ke negara diluar Tiongkok antara lain Vietnam, Meksiko, Kanada, Malaysia, Taiwan dan Indonesia.

Namun Sobur sangat menyayangkan, ditengah lonjakan permintaan tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal oleh Indonesia akibat masih banyaknya permasalahan yang dihadapi oleh pelaku industri mebel dan kerajinan tanah air, seperti adanya kelangkaan kontainer yang diikuti dengan melambungnya biaya freight cost; hambatan proses pengurusan Serifikat Laik Fungsi; masih berlakunya Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) yang menambah beban biaya; stabilitas harga dan pasokan kayu; kelangkaan bahan baku rotan akibat maraknya penyelundupan; dan masalah importasi bahan penunjang/asesoris al. hardware sepeti mur, baut, rivet, washer, nut, pin, clip, stamping part, turned part, dll, dan juga kain tekstil. Masalah lain yang juga menganggu aktifitas industri adalah ijin keimigrasian bagi Inspektor buyer luar negeri dan razia Limbah B3.

Lebih lanjut Abdul Sobur menyampaikan pada semeter I tahun 2021, ekspor mebel dan kerajinan meningkat signifikan yakni 35,41% (yoy) dimana dari kenaikan tersebut kelompok produk mebel mengalami kenaikan 39,98% dan kelompok produk kerajinan naik 24,87%. Namun di sisi lain impor juga terus merangkak naik sehingga pada saat tertentu bisa menggerus pangsa pasar industri lokal. AS masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar dengan berkontribusi sebesar 50,2% diikuti oleh Jepang, Belanda dan Jerman yakni 7,4%, 5,3% dan 4,3%. Sementera Belgia, Australia dan Inggris berkontribusi sebesar 3,9%, 3,6% dan 3,3%.

Begitu juga dengan ekspor kerajinan, AS masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar dengan menyumbang 44,4% dari total ekspor produk kerajinan, diikuti oleh Malaysia 12,6%, Jepang 7,8% dan Belanda 3,7%. Pada semester I – 2021 (yoy) impor mebel naik 36,34% dan kerajinan naik 20,28%, dan secara total impor mebel dan kerajinan meningkat 29,14%. Walaupun nilai impor masih terbilang kecil namun dikhawatirkan akan terus meningkat. Negara asal impor terbesar berasal dari Tiongkok (76,9%), sisanya berasal dari Thailand, Jepang, Malaysia, Vietnam, Italia, Jerman, Singapura, Taiwan dan Korea Selatan.

Tetap optimis

"Kami yang tergabung dalam HIMKI tetap optimis bahwa industri ini akan terus mengalami pertumbuhan. Dengan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimiliki bisa dikelola dengan baik, Indonesia bisa menjadi leader untuk industri mebel dan kerajinan di Kawasan Regional ASEAN," katanya. Dengan ketersediaan bahan baku hasil hutan yang melimpah, sumber daya manusia yang terampil dalam jumlah besar, industri ini bisa menjadi industri yang tangguh, dan peluang untuk tumbuh sangat terbuka, tegas Sobur.

Hal ini dikonfirmasi oleh hasil riset Research And Markets, tahun 2021 pasar furnitur global diperkirakan akan tumbuh menjadi USD 671,07 miliar dari tahun sebelumnya yang tercatat USD 564,17 miliar dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 18,9%. Nilai pasar global diperkirakan akan mencapai USD 850,38 miliar pada tahun 2025 dengan CAGR 6%” tegas Sobur.

Dalam konferensi pressnya Abdul Sobur juga menyatakan “untuk meningkatkan daya saing industri mebel dan kerajinan nasional di pasar global, HIMKI lebih intensif bermitra dengan seluruh stakeholder yang terdiri dari kalangan pemerintah, para pelaku industri mebel sekala besar, menengah dan kecil, para pelaku industri kerajinan nasional, para desainer, media, organisasi kemasyarakatan, institusi desain serta institusi terkait untuk mengawal pertumbuhan industri mebel dan kerajinan nasional agar menjadi yang terbesar di Kawasan Regional dan yang terdepan di dunia".

Dalam kesempatan yang sama Abdul Sobur juga melaporkan beberapa kegiatan yang dilakukan HIMKI selama semester I - 2021 diantaranya membangun diplomasi dengan berbagai pihak dalam upaya penanganan masalah kelangkaan bahan baku rotan dan pengamanan suplai bahan baku kayu. Selain itu menyelenggarakan Webminar dalam upaya menjaring masukan terkait permasalahan perijinan SLF; kelangkaan kontainer yang berujung pada mahalnya biaya ocean freight dan lain sebagainya.

Beberapa kegiatan yang sedang berjalan al. Program Akselerasi UKM/IKM Siap Ekspor (Aku Siap Ekspor), Showroom Vitual IFEX, Pelatihan Pengadaan Barang Ramah Lingkungan untuk UMKM Furniture Berlisensi SVLK dan Kemudian program yang sedang digarap yaitu Business Requirement Mobile Apps HIMKI, penyusunan Dokumen Grand Strategi Plan HIMKI 2021-2024 (GSP HIMKI), program pendirian Material Center dan insisiasi Program Pameran Permanen Mall to Mall dan lain-lain.

Abdul Sobur juga menyampaikan optimisnya “dengan melihat pertumbuhan ekspor yang cukup signifikan pada semester I tahun 2021 yang mencapai 35,4% (yoy), saya optimis target ekspor produk Mebel dan Kerajinan yang ditetapkan sebesar USD 5 miliar akan tercapai, dan bahkan akan terlampaui apa bila momentum pertumbuhan ini bisa dipertahankan.*