Jakarta, CNBC Indonesia - Eksportir furniture dan kerajinan tangan kebanjiran order akibat perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dan China. Permintaan ke negeri Paman Sam terus naik akibat menurunnya pasokan dari China.

Namun eksportir furnitur justru sedang kesulitan akibat susah mendapatkan kontainer untuk pengapalan dan mahalnya biasa kontainer. Kelangkaan kontainer ini dapat merusak pertumbuhan ekspor furniture dan kerajinan tangan jika masalah ini tidak terselesaikan oleh pemerintahan Presiden Jokowi.

Ketua Presidium Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur, mengatakan Amerika merupakan pasar utama ekspor furniture asal Indonesia yang mencapai US$ 954 juta pada 2020 lalu. Diikuti Jepang dan Belanda yang masing-masing hanya US$ 162 juta dan US$ 98 juta

Dengan adanya perang dagang, antara Amerika Serikat dan China, peluang untuk menggarap pasar ekspor ini sangat besar. Jika dilihat ekspor China ke Amerika di 2018 mencapai US$ 34 miliar, pada 2020 anjlok menjadi US$ 9,6 miliar karena ada perang dagang. Sehingga masih ada peluang sekitar US$ 24 miliar untuk mengisi kekosongan ekspor.

"Itu gede banget lagi diperebutkan, baik produsen domestik Amerika, negara tetangga Mexico, Kanada, hingga Vietnam, peluang besar mungkin Vietnam karena mereka eksportir kedua terbesar dari Amerika juga," jelasnya.

Nah, produsen UMKM lokal Indonesia ingin mengambil ceruk itu, walaupun tidak akan besar. Namun, bila dimaksimalkan hingga 2024 nanti paling tidak Indonesia bisa menjual furniture ke Amerika mencapai US$ 2 miliar naik hampir dua kali lipat dari nilai ekspor saat ini.

"Kita perlu dibantu pemerintah baik dari regulasi yang menghambat dihilangkan, termasuk Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) gak perlu, bunga pajak juga kalau bisa dipangkas," katanya.

Ia bilang masalah rantai pasok yang menghambat harus dihilangkan jika ingin bersaing dengan Vietnam. Abdul menjelaskan tapi kondisinya saat ini terganggu persoalan mahalnya ongkos kirim karena kelangkaan kontainer. Diakui kondisi ini memang sulit untuk dibenahi dimana aktivitas ekspor impor yang tidak seimbang.

"Tahun lalu ekspor furniture bisa tumbuh 5%, ke Amerika 12%, kita berupaya dan butuh bantuan supaya ekspor tahun ini bisa tumbuh lebih dari itu," jelasnya.

Kelangkaan kontainer terjadi akibat dari tidak seimbangnya arus ekspor dan impor dunia, akibat pandemi. Sehingga kapal sulit mendapat muatan penuh untuk perjalanan pulang dan pergi. Sehingga perusahaan perkapalan mengurangi jumlah kapal yang membuat ruang kontainer langka hingga membengkaknya ongkos kirim.