Cnbcindonesia.com
Senin, 7 Juni 2021
Oleh: Emir Yanwardhana

Jakarta, CNBC Indonesia - Pengusaha mengeluhkan biaya pengiriman kontainer pelabuhan yang makin mahal saat pandemi. Hal ini karena sulitnya mendapatkan kontainer alias  ada kelangkaan sehingga bisa mengganggu ekspor.

Kontainer langka dalam hal ini bukan bentuk fisik yang sulit untuk didapatkan. Melainkan, pergerakan volume barang yang tidak seimbang, aktivitas ekspor impor. sehingga kapal tidak mau bergerak akibat sedikitnya barang yang dikirim. Kapal akan merugi jika mengangkut volume barang yang lebih sedikit.

Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Riyanto membenarkan hal ini, biaya kontainer laut dari pelabuhan utama Indonesia mengalami kenaikan ke beberapa tujuan. Seperti Australia, Eropa, Timur Tengah, juga Amerika Serikat.

"Naiknya gila-gilaan, ini membuat kita sulit ekspor, akibat pandemi ini membuat pergerakan barang di dunia pun berkurang," jelasnya, kepada CNBC Indonesia, Senin (7/6/2021).
Dia mencontohkan dari pengiriman barang yang mau dilakukan dari kantornya ke Australia dari Semarang saat ini biayanya sudah membengkak dua kali lipat lebih. Harga per kontainer melebihi Rp 50 juta, dari yang biasanya di bawah Rp 20 juta.

Mahendra menjelaskan kenaikan biaya kontainer ini juga disebabkan daya beli masyarakat yang menurun akibat pandemi. Sehingga volume arus barang masuk dan keluar pelabuhan tidak seimbang.

"Jadi banyak ribuan kontainer nggak ada muatan, ketika tidak ada muatan kapal juga tidak mau bergerak. karena pergerakan barang di dunia berbanding lurus dengan alat angkut," jelasnya.

Ketua Umum Asosiasi Logistik Forwarder Indonesia ALFI, Yukki N. Hanafi menyebut kelangkaan kontainer khususnya berukuran 40 feet, yang untuk pergerakan barang jarak jauh.

"Sejak Agustus lalu (2020) saya sudah sampaikan, bahwa ini akan terjadi kekosongan kontainer 40 feet untuk kegiatan jarak jauh, karena Amerika dan Eropa saat itu masih lockdown, sehingga terjadi penumpukan, yang berdampak pada harga kontainer itu mahal," jelasnya.

Yukki menjelaskan kondisi kelangkaan kontainer memang masih berlanjut hingga saat ini. Terutama untuk tujuan ke beberapa negara seperti Amerika dan Eropa. Paling berdampak dari kondisi ini adalah pelaku usaha eksportir dan importir, tentunya sampai ke hilir UMKM furniture dan tekstil.

Adapun rentang cost kenaikan yang terjadi menurut Yukki dari 200%-300%. Walaupun tidak terjadi di semua destinasi. Pihaknya saat ini juga sedang berkomunikasi dengan pihak shipping line supaya mendapat solusi ketidakseimbangan ongkos kargo ini.

"Kalo yang gede terkait supply chain, yang kecil ini mereka tidak punya bargain untuk mendapatkan harga freight yang sesuai, bahkan lebih mahal dari nilai eksport-nya sendiri," jelasnya.