Bisnis.com, JAKARTA — Industri mebel dan kerajinan menilai laju kinerja permintaan produk untuk ekspor semakin membaik pada kuartal akhir tahun ini. Hal itu dikarenakan berkah perang dagang AS vs China.

Wakil Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengatakan peningkatan order sudah diasakan sejak September 2020 terutama dari Negara Paman Sam sebagai korelasi dari perang dagang di samping Covid-19 yang masih berjalan.

"Sekarang produk China lebih sulit masuk jadi ada ruang yang kita ambil. Artinya ada kesempatan baik karena permintaan dari AS terus meningkat dibanding negara lain. Jadi tren kuartal IV/2020 ini bertumbuh," katanya kepada Bisnis, Rabu (14/10/2020).

Kendati begitu, Sobur mengemukakan kinerja penjualan tahun ini tidak akan lebih tinggi dari tahun lalu atau kondisi normal sebelum Covid-19 menyerang. Dia memproyeksi kondisi akan kembali normal setelah vaksin Covid-19 dapat dikonsumsi secara komersial oleh masyarakat di tahun depan.

Adapun HIMKI menargetkan nilai ekspor furnitur ke Negeri Paman Sam bisa naik 71,4 persen-114,28 persen menjadi US$1,2 miliar - US$1,5 miliar pada 2025.

Tahun lalu, ekspor furnitur ke Amerika Serikat berkontribusi sekitar 38,8 persen atau

US$700 juta dari total nilai ekspor furnitur nasional.

Sisi lain, dengan disahkannya UU Omnibus Law Cipta Kerja, Sobur berharap pemerintah dapat memberikan kesempatan yang lebih besar pada produk lokal dalam kaitannya bersaing dengan produk impor.

"Data kami nilai produk impor sudah mendekati Rp10 triliun, kalau ini dinikmati produsen kita sendiri akan lebih baik. Produk impor tidak perlu dilarang tapi banyak cara misalnya menerapkan TKDN yang super ketat," ujar Sobur.

Adapun dari sisi bahan baku, TKDN industri saat ini sudah mencapai 85 persen mengingat banyak bahan yang memang sudah tersedia di dalam negeri seperti kayu, rotan, dan sejenisnya. Alhasil, ketika industri lain mengalami kesulitan produksi akibat bahan baku yang sulit didapat industri mebel relatif masih dapat lebih berjalan.*