Semarang, 21 September 2020 – Tim Formatur yang bertugas menyusun kepengurusan DPP HIMKI masa bakti 2020-2023 telah selesai menjalankan tugasnya pada tanggal 19 September 2020 di Semarang, Jawa Tengah dan pengurus HIMKI tersebut secara resmi sebagai pengurus HIMKI yang baru. Dengan terbentuknya kepengurusan baru ini, HIMKI jadikan sebagai momentum untuk mengingkatkan daya saing industri mebel dan kerajinan nasional di pasar global.

Terbentuknya pengurus baru DPP HIMKI ini tidak lepas dari rangkaian dari penyelenggaraan Musyawarah Nasional HIMKI Ke-2 di Hotel Santika Cirebon pada 18-19 Agustus 2020. Munas diselenggarakan untuk merubah Anggaran Dasar dan/atau Anggaran Rumah Tangga dan memilih dan menetapkan 7 anggota Tim Formatur dari peserta Munas untuk menyusun dan membentuk kepengurusan lengkap Dewan Pimpinan Pusat HIMKI.

Dalam Anggaran Rumah Tangga HIMKI Bab II mengenai Kekuasaan Tertinggi Organisasi Pasal 2 ayat 1 disebutkan bahwa Musyawarah Nasional adalah perangkat kekuasaan tertinggi organisasi yang terdiri dari perwakilan suara proporsional dari DPD yang sah, untuk digunakan pada saat Musyawarah Nasional.

Terbentuknya pengurus baru HIMKI ini dalam rangka membangun organisasi yang tangguh, untuk itu dibutuhkan kepengurusan yang kuat, bersih dan profesional serta mencerminkan azas keterwakilan dari para pelaku usaha industri mebel dan kerajinan.

Sebagai momentum

Sebagai ogranisasi, HIMKI mengucapkan selamat dan terima kasih kepada Bapak/Ibu yang telah bersedia menjadi pengurus HIMKI untuk bekerjasama dalam mengembangkan industri mebel dan kerajinan Indonesia yang kita cintai ini.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa sektor industri mebel dan kerajinan nasional dapat mejadi salah satu pilar kekuatan ekonomi nasional, mengingat Indonesia memiliki bahan baku bagi industri mebel dan kerajinan yang cukup melimpah. Di sisi lain industri mebel dan kerajinan Indonesia juga mampu menghasilkan devisa dan menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang cukup besar. Namun dalam kenyataannya untuk mengembangkan industri ini cukup sulit dan banyak mengalami berbagai kendala.

Sejak dibentuk banyak yang sudah diperjuangkan oleh HIMKI dalam mewujudkan industri ini menjadi maju dan berkembang, namun usaha itu belum berhasil maksimal sesuai yang kita harapkan bersama sehingga untuk mencapai tujuan tersebut kita perlu bekerja lebih keras.

Sebagai pelaku usaha yang mempunyai kepedulian yang sangat tinggi terhadap keberadaan dan keberlangsungan industri mebel dan kerajinan Indonesia, pengurus HIMKI bersama dengan para anggota tidak dapat menutup mata dan telinga terhadap berbagai hal yang bukan saja berdampak langsung pada usaha masing-masing pada khususnya, tetapi terlebih lagi adalah pada industri ini secara keseluruhan.

Betapa risaunya kita ketika membandingkan dengan pencapaian yang berhasil diraih oleh negara-negara tetangga untuk industri yang sama, seperti halnya China dan Vietnam. Kami yakin bahwa hal tersebut tidak perlu terjadi dan bahkan dengan segala potensi yang ada di negara kita, tentunya kalaupun tidak dapat melampaui pencapaian mereka, setidak-tidaknya dapat menyamainya. Hal ini telah sangat disadari oleh kita bersama yang kebanyakan merupakan pengusaha profesional, juga bisa dikatakan pengusaha pejuang, yang ingin melihat industri ini menjadi tuan di rumahnya sendiri.

Kita dihadapkan pada kondisi ekonomi Indonesia yang masih belum baik, sedangkan kita selaku pengurus HIMKI ditunggu karyanya dalam memperjuangkan kepentingan anggota dalam menjalankan usahanya. Untuk itu tidak ada kata lain kecuali kita harus bekerjasama saling asih dan saling asuh dalam membawa asosiasi dan industri ini kedepan yang lebih baik. 

Kami berharap potensi ekspor industri mebel dan kerajinan nasional tumbuh hingga 5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 74 triliun dalam kurun waktu lima tahun mendatang bisa tercapai, sepanjang pemerintah tidak menghambat pelaku industri mendapatkan bahan baku kayu legal yang kompetitif. Untuk itu, kalangan pelaku industri mebel dan kerajinan meminta dihilangkannya sejumlah regulasi ekspor yang akan menekan kinerja untuk mendapatkan nilai tambah yang maksimal.

Dalam jangka panjang ancaman kekurangan bahan baku dari dalam negeri kian nyata. Apalagi, berdasarkan informasi yang kami dapat, Kementerian Perdagangan telah menyusun Permendag yang terkait ketentuan ekspor bahan baku kayu (log) dan posisinya sudah di Kementerian Hukum dan HAM. Draft terakhir Permendag tersebut menyepakati untuk perluasan penampang khusus untuk kayu merbau dan meranti (merah, kuning dan putih). Perluasan itu naik dari 10.000 mm menjadi 15.000 mm yang akan berlaku hingga Desember 2021 yang akan dievaluasi kembali.

Jika disetujui, Permendag tersebut berpotensi mematikan industri mebel dan kerajinan karena kehilangan bahan baku, ketergantungan impor, dan pengurasan devisa untuk impor bahan baku kayu. Kalau ini didiamkan, Indonesia akan kehilangan salah satu primadona ekspor. Untuk itu, kami terus berjuang dan terus bersuara agar ekspor bahan baku tidak dibuka. Para pelaku berharap pemerintah konsisten dan serius  mendukung primadona ekspor dengan cara mengkaji ulang untuk tidak membuka ekspor bahan baku.

HIMKI juga meminta aturan soal Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) di hilir dicabut karena di hulu audah diberlakukan. Sebab, pengusaha sudah membeli bahan baku dari industri hulu.

HIMKI juga berharap adanya kebijakan pemerintah yang mampu mendorong tranformasi proses produki industri yang saat ini hampir sepenuhnya dikerjakan secara manual menuju penggunaan teknologi yang jauh lebih efisien seperti Computer Numerical Control  (CNC) Carving Machine. Teknologi ini merupakan sistem otomasi mesin perkakas yang dioperasikan oleh perintah yang diprogram secara digital.

Sejak tahun 1940, di dunia otomotif teknologi ini sudah dikenal dan sekarang dikembangkan pada industri mebel dam kerajinan oleh China dan sejumlah negara lain. Dengan menggunakan teknologi CNC, China mampu melakukan lompatan besar karena produktivitas naiknya naik tajam dan kini menguasai sekitar 39 persen nilai pasar global mebel yang kini sekitar 450 miliar dolar AS per tahun.

Dengan menggunakan teknologi CNC, perusahaan mebel China mampu menyelesaikan pengerjaan satu pintu hanya dalam 4 jam-5 jam, sementara di Indonesia yang mengandalkan teknologi manual membutuhkan waktu 3-4 hari. Dengan tidak menggunakan teknologi ini selama ini telah menjadi salah satu penyebab utama rendahnya daya saing industri mebel nasional. Akibatnya, sumber daya alam yang melimpah seperti kayu dan rotan sebagai bahan baku utama industri mebel tidak bisa menjadi andalan keunggulan industri ini di pentas global. Padahal, dari sisi bahan baku Indonesia jauh lebih unggul dibandingkan China dan Vietnam.

Untuk meningkatkan daya saing industri mebel dan kerajinan nasional di pasar global, para pengurus baru HIMKI akan lebih intensif bermitra dengan pemerintah dan seluruh stakeholder yang terdiri dari para pelaku industri mebel sekala besar, menengah dan kecil, para pelaku industri kerajinan nasional, para desainer, media, organisasi kemasyarakatan, institusi desain serta institusi terkait untuk mengawal pertumbuhan industri mebel dan kerajinan nasional agar menjadi yang terbesar di Kawasan Regional dan yang terdepan di dunia. 

Semarang, 21 September 2020

Presidium HIMKI                                Sekretaris Jendeal HIMKI
Abdul Sobur                                                  Heru Prasetyo
Maskur Zaenuri
Satori