CNBC Indonesia, Jakarta – Sektor mebel dan kerajinan termasuk yang terpukul pandemi corona bahkan sudah merumahkan dan mem-PHK sedikitnya 280 ribu dari 2 juta lebih pekerja di sektor ini. Mereka mengusulkan ada stimulus konkret berupa bantuan tunai untuk memberikan gaji kepada para pekerja di tengah order yang banyak dibatalkan.

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Ir. Soenoto, memprediksi pihaknya hanya dapat bertahan hingga akhir tahun, dalam menghadapi dampak pandemi Covid-19. Harapan relaksasi berupa bantuan tunai untuk memberikan gaji para pekerja, tapi mereka pesimistis akan dipenuhi pemerintah.


"Kami perkirakan 6-8 bulan (kebutuhan cashflow untuk pekerja), terhitung dari April. Jadi sampai akhir tahun ini, kami harus bertahan, tidak tahu cari bantuan dari mana. Diharapkan, awal Januari sudah bisa mulai merangkak lagi," katanya kepada CNBC Indonesia, Rabu (13/5).

Ia menghitung perkiraan jumlah stimulus yang dibutuhkan bagi seluruh anggotanya, mencapai Rp 4 triliun. Angka tersebut diyakini dapat membantu meringankan beban pengusaha di tengah masa sulit. "Kita mau ya stimulus secara cash, 5-6 bulan gaji, plus THR. Jadi sekitar 7 bulan lah dibantu. Dikalikan ratusan upah karyawan di setiap pabrik, itu saja digelontorkan, supaya bisa bertahan," katanya.

S0enoto menyebut, setiap usulan-usulan yang disampaikan, tidak membuahkan hasil. Bahkan untuk direspon saja, hal itu lewat dari perhatian pemerintah. "Hingga saat ini, stimulus perbankan belum dirasakan, apalagi bank berpelat merah, yang katanya milik pemerintah," katanya.

Jangan Impor Mebel!

Ia mengimbau para Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk menggunakan furniture lokal di setiap kantor-kantor. Menurutnya pengusaha mebel lokal dapat membuat furnitur, dengan kualitas yang tidak kalah saing dengan kualitas impor. Sehingga pemerintah atau BUMN dapat mendukung pasar lokal yang dinilai peluangnya sangat besar.

"Untuk Menteri BUMN Erick Thohir, untuk kantor-kantor BUMN, tolong jangan ada satupun yang gunakan furnitur dari luar negeri, setop impor furnitur, gunakan furniture dalam negeri," katanya.

Ia menjelaskan telah mencatat nilai ekspor barang furnitur dan kerajinan pada tahun 2019 mencapai US$ 2,5 miliar dan menargetkan sebesar US$ 5 miliar untuk lima tahun ke depan.*