BisnisIndonesia, Jakarta – Industri furnitur dan kerajinan di Tanah Air berpotensi untuk maju dan mengisi pasar mancanegara. Hanya saja, produk hasil industri ini masih dituntut untuk lebih berdaya saing. Furnitur dan kerajinan Indonesia dengan berbagai kelebihannya seharusnya bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat kursi, mebel, lemari, dan perabotan dekorasi, sudah tersedia di negara ini. Sayangnya, produk furnitur ini masih harus berebut pasar dengan produk-produk impor.

Direktur Keuangan PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD), Sutrisna Wang mengatakan, Indonesia memiliki potensi sumber kehutanan yang sangat besar. Buktinya, untuk produksi hardwood, Indonesia ma-suk dalam tiga besar produsen hardwood di dunia. Dengan demikian, Indonesia sangat berpeluang untuk mengembangkan industri furniturnya.

“Indonesia perlu belajar karena kaya akan kayu yang belum dimanfaatkan. Misalnya rotan dan kayu yang tak bisa diekspor mentah, maka penting untuk mengoptimalkan pembenahan dari hulu ke hilir dan pemerintah bisa menata produknya sampai menjadi unggulan,” tuturnya.

Namun Sutrisna menilai belum ada sinkronisasi industri furnitur dari hulu ke hilir, sehingga po- tensi yang dimiliki belum tergarap maksimal. Dalam konteks ini, Indonesia bisa belajar dari China. Menurutnya, negara tersebut berhasil membuat peta jalan industri furnitur. Dia mencontohkan, mayoritas bahan baku industri di China bersumber dari impor. Meski demikian, bahan baku impor tersebut didistribusikan ke semua provinsi.

Menurutnya, Indonesia bisa meniru China misalnya dengan membuat sentra-sentra bisnis. Morowali bisa menjadi model industri mebel. “Tinggal produk turunan stainless steel itu misalnya ditempatkan saling berdekatan sehingga biaya distribusi lebih murah, kita bisa berkompetisi dan unggul.”

Mengenai kualitas desain, Sutrisna mengatakan bahwa secara umum industri furnitur di Tanah Air sangat terpengaruh tren global dan budaya lokal. Dia berkeyakinan para desainer produk di dalam negeri memiliki kemampuan mendesain produk-produk yang kompetitif dengan produk impor.

Guna mendorong kualitas dan daya saing desain lokal, pemerintah perlu terlibat dalam mempromosikan produk furnitur Indonesia di isamping memberikan insentif fiskal. Cara sederhananya, semua furniture di kantor pemerintah harus dijamin menggunakan produk asli Indonesia, bukan produk mebel impor.

Selama ini, paparnya, produsen di Tanah Air memanfaatkan ajang pameran untuk mengenalkan sejumlah produk andalan. Sayangnya, sejumlah pameran kerap tidak berlanjut. Padahal, keberlanjutan pameran itu dibutuhkan untuk menumbuhkan iklim industri furnitur.

Dia pun mengusulkan agar ke depan pemerintah dapat menyusun agenda pameran furnitur yang berkelanjutan. “Sesuatu yang berkesinambungan itu yang harus diusahakan. Hal ini harusnya terpadu,” ujar Sutrisna.

Dia juga menyarankan agar pameran furnitur tidak hanya digelar di Jakarta, melainkan juga kota-kota lain, sehingga lebih merata. Selain itu, memberi peluang bagi produsen atau perajin di daerah untuk unjuk gigi.

Di sisi lain, kendati pemasaran secara online atau dalam jaringan tengah tren, rupanya produsen furnitur masih mengandalkan offline melalui pameran. Alasannya, tak lepas dari kebiasaan konsumen yang ingin mencermati produk secara fisik dibandingkan dengan melihat dari gambar.

Regina Kindangen, Wakil Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Bidang Usaha Kecil dan Menengah menjelaskan, alasan tersebut mendasari pertimbangan pemasaran produk dekorasi rumah, yang membuat pemasaran secara daring tidak seagresif secara luring (offline).

Selain itu, dari sisi ritel, pameran sangat efektif untuk mempertemukan bisnis atau business matching dan transaksi business to business. Dengan berbagai faktor itu maka konsumen menjadi sangat perlu datang ke pameran untuk bertemu dengan penjual atau mencermati produk baru.

Peluang Masa Pandemi

Kondisi pandemi Covid-19 yang serba sulit dari tingkat ekonomi dunia juga cukup terasa pada bisnis mebel dan desain interior. Regina Kindangen menilai, kerentanan ekonomi akibat pandemi ini bisa menjadi pembelajaran positif bagi para pelaku usaha dan juga pemerintah.

Terlebih lagi, menurutnya, pangsa pasar desain interior dan home décor di dalam negeri sangat besar seiring dengan pesatnya pembangunan gedung perkantoran, hotel dan properti di destinasi pariwisata prioritas hingga proyek ibu kota baru.

Di sisi lain, produk barang furnitur impor masih membanjiri pasar dengan angka yang fantastis. Misalnya pada 2018, total nilai impor furnitur mencapai US$564 juta, dan naik lagi menjadi US$594 juta pada 2019. “Ini bisa dialihkan untuk pengembangan industri dalam negeri. Toh produk lokal dari Cirebon, Solo, Bandung, Bali, dan Yogyakarta sudah mampu menembus pasar global hingga ke New York, Amerika dan Paris, Prancis. Maka penting mengelaborasi lebih dalam pasar di dalam negeri,” tutur Regina.

Dia menyarankan agar pemerintah menyiapkan stimulus jangka panjang bagi industri furnitur untuk menyesuaikan perubahan kebiasaan konsumen menyikapi dampak pandemi corona atau Covid-19. Selain itu, pelaku usaha furnitur atau dekorasi rumah nasional diharapkan juga bisa belajar dari produsen besar luar negeri.

Sementara itu, Chief Executive Officer Kriya Nusantara Abdul Sobur menyatakan bahwa kesuksesan IKEA dapat menjadi contoh bagi perusahaan furnitur di Indonesia. Dia menilai, kesuksesan IKEA dicapai karena mereka konsisten dalam menjalankan efisiensi dalam biaya produksi dan biaya operasional, melalui sejumlah cara yang radikal tanpa mengurangi kualitas barang, serta kualitas pelayanan bagi pelanggannya. “Begitu pula dalam mempertahankan brand, industri furnitur bisa belajar dari Louis Vuitton,” ujarnya.

Perusahaan fashion ternama itu mempertahankan kualitas sebagai komitmen utamanya, sehingga tidak bisa diimbangi atau dikejar oleh para pesaingnya. Langkah ini, menurut Abdul, bisa diadopsi oleh para pelaku usaha furnitur dan kerajinan di Indonesia. GLORIA F.K. LAWI