CNBC Indonesia, Jakarta – Industri mebel dan kerajinan harus merasakan dampak pandemi corona di Indonesia, dimana kesulitan likuiditas akibat wabah ini pelaku usaha harus merumahkan sekitar 280,00 karyawannya dan jumlahnya terus bertambah. Total pekerja di sektor ini  lebih dari 2 juta.

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Ir. Soenoto menyebutkan industri furniture dan kerajinan mengalami tekanan yang sangat berat, dimana selain kehilangan pembeli dan industri juga belum mendapatkan stimulus pemerintah, saat ini HIKMI juga harus menghadapi pemberlakuan aturan Sistem Verifikasi dan Legalitas (SVLK) di hilir dan adanya serbuan mebel impor yang terjadi.

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Sunoto mengatakan pada April saja sudah ada 280 ribu pekerja yang di-PHK dan dirumahkan karena dampak pandemi, dan terus bertambah.

Ia mengatakan apa yang terjadi pada industri mebel menambah pengangguran di Indonesia. Pengusaha mebel yang sudah tak dapat pemasukan tentu kesulitan membayar gaji pekerjanya, sehingga merumahkan dan PHK karyawan jadi pilihan. "Cashflow sudah rusak, kita sudah menjual segala macam, gajian harus jalan, kalau mau tegas, stimulus 5-6 bulan gaji, sekitar 7 bulan termasuk THR," katanya.

Sunoto mengatakan sempat ditanya oleh pemerintah soal stimulus apa yang bisa diberikan. Menurutnya stimulus langsung ke pengusaha dalam bentuk uang tunai sangat diperlukan untuk menggaji para pekerja terdampak.

Ia memperkirakan stimulus yang diperlukan bagi sektor ini selama 6 bulan untuk bisa bertahan sedikitnya Rp 4 triliun, yang fokus untuk membayar gaji dan THR pekerja.*