Jakarta, Kompas.com – Menyebarnya virus corona membuat sejumlah sektor pelaku ekonomi di Indonesia berdampak, tak terkecuali para pelaku usaha kecil menengah (UKM). Salah satu pelaku UKM yang berada di Yogyakarta, yaitu CV Jawa Klasik, mengaku omzet yang didapatkannya menurun sejak Januari.

"Karena saya transaksinya ekspor ke Belgia, Swedia, dan Perancis akibat Covid dan kota mereka sedang lockdown, transaksi saya turun 90 persen," ujar Astriani, pemilik usaha CV Jawa Klasik, saat dihubungi Kompas.com, Jumat (20/3/2020).

Menurut dia, dalam kondisi normal, transaksi dalam sebulan rata-rata mencapai Rp 500 juta. Namun, setelah terjadi pandemi virus corona, proses distribusi ke buyer-buyer-nya pun terhenti. Adapun produk yang dijajakan ke pasar ekspor saat ini dibanderol dari harga Rp 5 juta hingga Rp 15 juta.

Selain itu, akibat dari virus corona yang kian menyebar, dirinya harus menyuruh karyawannya untuk libur dan sebagian bertugas dari rumah (work from home/WFH). Dari total jumlah karyawan 25 orang, kini hanya tersisa 6 orang yang sedang menyelesaikan beberapa tugasnya di rumah produksi.

Sementara bahan baku yang dibutuhkan untuk diolah menjadi produk kursi, sofa, meja makan, dan peralatan rumah tangga lainnya, ia mengaku tidak ada kesulitan. "Bahan baku aman, malah berlebih karena enggak ada proses produksi, karena penjualan berhenti, produksi pun berhentilah," sambungnya.*