Kumparan.com – Industri furnitur Vietnam berhasil mencatatkan pertumbuhan yang sangat signifikan dalam beberapa tahun terkahir. Vietnam berhasil menjadi 10 besar produsen furnitur terbesar di dunia dengan nilai USD 10 miliar di 2018. Di kawasan ASEAN, Vietnam adalah rajanya.

Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga lainnya di ASEAN, Vietnam sudah melesat sangat jauh. Misalnya dengan Indonesia yang nilai ekspor industri furniturnya pada tahun lalu hanya USD 1,7 miliar dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 3-4 persen per tahun.

Lantas, apa yang membuat kinerja industri furnitur Vietnam begitu cemerlang? President Woodworth International Corporation, Lawrence M.D. Yen mengatakan, Vietnam menjadi negara yang paling diuntungkan dengan adanya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Woodworth International Corporation merupakan salah satu perusahaan furnitur di Vietnam.

"Ketika (ada) perang dagang antara AS dan China negara yang paling untung adalah Vietnam," katanya saat ditemui di pabriknya di Ho Chi Minh City, Vietnam, Rabu (27/11/2019).

Menurutnya ada banyak pabrik dari China yang relokasi ke Vietnam untuk membangun pabrik di tengah perang dagang terjadi. Para investor lebih memilih Vietnam lantaran gaji pekerja lebih murah dibanding negara lain termasuk Indonesia. "Upah para pekerja di sini (Vietnam) relatif lebih murah dibanding di negara lainnya (Indonesia). Selisihnya sekitar 73 persen (per tahun)," imbuhnya.

Upah minimum para pekerja di Vietnam sekitar Rp 2,8 juta hingga Rp 3,5 juta per bulan. Sementara untuk para pekerja di Indonesia sebenarnya tidak jauh beda yaitu sekitar Rp 3,6 juta per bulan.

Hanya saja dari sisi produktivitas, berdasarkan catatan Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), para pekerja di Vietnam menghabiskan waktu lebih lama atau 48 jam per minggu. Sementara pekerja di Indonesia menghabiskan waktu hanya 40 jam per minggu.

Lawrence bercerita sempat menanamkan investasi Rp 500 miliar untuk membangun pabrik di kawasan Mojokerto Jawa Timur. Hanya saja tak berselang lama, ia memilih untuk melakukan relokasi pabrik ke Vietnam lantaran regulasi upah yang dinilai lebih mahal dibanding Vietnam. Selain itu juga harga tanah di Indonesia yang jauh lebih mahal jika dibanding Vietnam. "Harga tanah di Indonesia sangat mahal," keluhnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Abdul Rochim mengakui, jika industri furnitur di Indonesia jauh tertinggal dibanding Vietnam. Padahal dulu, kinerja industri furnitur Vietnam jauh di bawah Indonesia.

"Vietnam aja beberapa tahun bisa mendongkrak. Dulu di bawah kita sekarang jauh meninggalkan kita," katanya. Abdul Latif