Solo — Persaingan produk mebel dan furniture  di pasar global yang semakin ketat, menuntut para pelaku industri dalam negeri untuk mampu meningkatkan daya saing usaha. Upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan produksi itu, salah satunya  dengan menerapkan teknologi.

“Pemanfaatan teknologi dapat menjadi solusi untuk mengejar ketertinggalan dari negara lain, seperti Malaysia, Vietnam dan Tiongkok, ” kata Sekertaris Jenderal DPP Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur kepada wartawan, Kamis (22/8/2019).

Dengan penggunaan teknologi yang memadai, menurutnya tidak hanya dapat meningkatkan kapasitas produksi dari industri dalam negeri. Tapi juga bisa meningkatkan efisiensi biaya produksi. “Efisiensi produksi hanya bisa dilakukan dengan menggunakan teknologi. Bahkan porsinya bisa mencapai 20-30 persen, “jelasnya.

Terkait dengan anggapan bahwa teknologi canggih selalu mahal, menurutnya tidak selalu benar. Karena itu, di dalam pameran Internasional Furniture Manufacturing Components (IFMAC) 2019 di Jakarta, 9-12 Oktober nanti dapat menjadi referensi dan motivasi bagi pelaku di dalam negeri.

Sementara itu, Ketua HIMKI Solo, Adi Dharma S menambahkan Jawa Tengah dan Solo Raya merupakan sentra produksi mebel dan kerajinan furniture. Hanya saja, dari ratusan anggota HIMKI yang ada di Solo Raya, belum banyak yang melakukan peremajaan mesin produksi. Karena biaya yang dianggap mahal. “Memang sudah ada beragam fasilitas dari pemerintah. Tapi karena kurang sosialisasi jadi pemanfaatannya tidak maksimal,” terangnya.

Dari data tercatat, ia menyebut pelaku industri di Soloraya yang sudah melakukan peremajaan teknologi produksi dengan fasilitas dari pemerintah hanya sekitar 8 persen. Sehingga angkanya cukup minim. “Karena itu kita terus mendorong agar pelaku industri yang saat ini masih menggunakan pola lama, bisa secara bertahap beralih ke modern atau dengan menggunakan teknologi canggih,” tandasnya. wahyu wibowo/timlo.net