SURYA.co.id | SURABAYA - Kinerja ekspor produk mebel dan kerajinan tangan di tahun ini secara nasional akan tumbuh di kisaran 5 persen - 6 persen hingga akhir tahun. Hal berdasarkan catatan Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI).

Namun, pertumbuhan ini ini sangat kecil dibanding Vietnam yang pertumbuhan ekspor produk ini mampu tumbuh 38 persen dalam tiga tahun terakhir atau rata-rata 16 persen per tahun. "Sementara bahan baku, sumber daya manusia dan desain kami bisa diatas Vietnam. Ternyata salah satunya adalah menggunakan teknologi dan mesin yang modern sehingga memiliki standar global," kata Abdul Sobur, Sekretaris Jenderal (Sekjen) HIMKI saat di Surabaya, Selasa (20/8/2019).

Hal itulah yang membuat HIMKI mendorong anggotanya untuk melakukan invetasi di sektor permesinan kayu tersebut. Terutama anggota HIMKI Jatim, yang industrinya memberi kontribusi ekspor nasional hingga 40 persen.

Langkah ini diharapkan juga bisa meningkatkan kinerja ekspor HIMKI Jatim, yang di tahun ini diprediksi stagnan. Ketua HIMKI Jatim, Nur Cahyudi menyebutkan, ekspor mebel dan kerajinan Jatim di semester I tahun 2019 mengalami penurunan dibanding semester I tahun 2018. "Ternyata dari 130 juta dolar AS di tahun 2018, periode yang sama tahun ini hanya mencapai 122 juta dolar AS," tambah Nur Cahyudi.

Penurunan itu, penyebab terbaru adalah adanya relokasi industri mebel dan kerajinan Jatim ke Jawa Tengah (Jateng) akibat beratnya upah pekerja. "Sehingga secara nasional masih tumbuh konvensional yaitu 5-6 persen dari target sebelumnya 8 persen, karena didorong ekspor dari Jateng. Sementara Jatim, diprediksi sampai akhir tahun akan stagnan," tambah Abdul Sobur.

Kedua pengurus HIMKI tersebut, sepakat investasi di mesin komponen furniture dan permesinan kayu, akan meningkatkan kemampuan produksi dan daya saing produk mebel dan furniture Indonesia di pasar ekspor. Karena langkah yang sama telah dilakukan Vietnam hingga mampu kemampuan ekspor mereka bertambah.

Apalagi kedepan, di bulan Oktober 2019 akan ada pameran Internasional Furniture Manufacturing Component (IFMAC) 2019 di Jakarta. Pameran rutin bertaraf internasional ini tiap tahun digelar di Indonesia dan dua tahun sekali digelar di Vietnam.

"Kami melihat potensi pengembangan industri mebel dan kerajinan di Indonesia yang cukup besar. Hal itulah yang membuat kami menggandeng HIMKI baik pusat maupun yang di daerah," ungkap Sofianto Widjaja, General Manager PT Wahana Kemalaniaga Makmur, penyelenggara pameran IFMAC 2019.

Dengan hadir di pameran ini, para anggota HIMKI bisa mendapat kesempatan untuk melihat perkembangan teknologi terbaru bidang komponen furniture dan permesinan kayu, dilanjutkan dengan belanja invetasi mesin untuk industrinya. "Kami optimis respons akan positif, melihat industri mebel dan kerajinan di Indonesia masih menjadi penopang perekonomian nasional," tandas Sofianto.*