Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia
Indonesian Furniture and Craft Industry Association
16 November 2017

IFEX 2018 Peluang Industri Furniture dan Kerajinan

Denpasar (BBBTIMES) – Sebanyak 11.200 pembeli dari mancanegara akan mengikuti  pameran Indonesia International Furniture Expo (IFEX ) 2018 yang akan digelar  di Jakarta International Expo pada 9 s/d 12 Maret 2018 mendatang,

"Kami  berharap perajin dan pelaku industri mengoptimalkan acara tersebut sebagai expo furniture dan kerajinan," kata Ketua DPD Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Bali Ketut Wiranantaja ketika acara Roadshow IFEX 2018 di  Denpasar (15/11).

Ia mengatakan,  kegiatan itu  yang diorganisir Dyandra Promosindo bekerjasama dengan HIMKI mampu menekan biaya dibandingkan dengan mengikuti ajang sejenis di luar negeri yang menelan pengeluaran yang lebih besar.

IFEX 2018 menyediakan ruang seluas 60.000 meter persegi dan 3.000 meter persegi di antaranya disiapkan untuk kerajinan kayu. Peluang tersebut diharapkan bisa dimanfaatkan dengan baik oleh pelaku industri di Bali, sebab daerah-daerah lain antusiasnya juga besar.

Untuk pameran ini, daerah Jawa Tengah telah memesan 1.000 meter persegi karena besarnya dukungan dari pemerintah setempat.  Sedangkan Bali  baru bisa mengisi 400 meter persegi. "Bandung saja yang awalnya memesan seratus, terus menambah dan kini sudah tiga ratus. Kita harapkan dalam waktu yang ada, pesertanya akan terus meningkat,” tambah pemilik CV Wiracana yang memproduksi kipas sejak puluhan tahun ini.

Sementara itu, Kabid Perdagangan dan Industri Luar Negeri AA Ngurah Bagawinta membacakan sambutan Kadis Perdagangan dan Perindustrian Bali mengatakan, Pulau Dewata memiliki sumber daya manusia (SDM) yang kreatif  dan potensi  industri kecil dan menengah (IKM) juga  besar.

Berdasarkan data dari tahun 2012 hingga 2016 terjadi rata-rata pertumbuhan setiap tahunnya 8 persen lebih dengan melibatkan 96.462 tenaga kerja. Investasinya mencapai Rp 3,3 triliun. Ia berharap dengan tumbuhnya industri kerajinan ini ke depannya juga bisa membantu mengatasi pengangguran yang saat ini jumlahnya sekitar 39 ribu jiwa. Untuk IKM berbasis kayu tambahnya mampu tumbuh mencapai rata-rata 6.4 perse setahunnya.

Terkait ekspor kerajinan Bali disebutkan dalam lima tahun terakhir rata-rata meningkat 4,84 persen dengan nilai ekspor tahun 2012 sebesar 481 juta dolar lebih dan 574 juta dolar lebih di tahun 2016 dengan tujuan ke 106 negara.

Dikatakan ada 376 eksportir di Bali namun baru 67 yang mengantongi sertifikat legalitas kayu. Untuk itu ia berharap agar pengusaha melengkapi dokumen yang sah sehingga bisa lancar dalam melakukan kegiatannya. “Kami akan mendukung dan membantu memberi kemudahan-kemudahan sesuai aturan,” tambahnya.(JAR)